Kadang aku merasa jadi ibu itu nggak sesederhana yang orang bayangkan. Dari pagi sampai malam, rasanya waktu habis untuk anak, rumah, dan seribu pekerjaan kecil yang nggak pernah selesai. Di balik semua itu, ada lelah yang jarang terlihat. Ada hati yang butuh dijaga supaya tetap kuat, juga pikiran yang perlu diberi ruang untuk bernapas.
Di titik inilah aku sadar, aku butuh cara untuk tetap waras, produktif, sekaligus dekat dengan Allah Swt. Dan aku menemukannya lewat Quran Journaling, sebuah aktivitas sederhana yang menggabungkan kegiatan menulis, merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, dan sedikit sentuhan kreativitas.
Dulu, journaling buatku hanya kegiatan menulis catatan harian dan menghiasnya dengan stiker lucu atau washi tape warna-warni.Rasanya menyenangkan, tapi lama-lama ada ruang kosong yang nggak terisi. Seolah cantiknya halaman jurnal tidak cukup untuk membuat hati tenang.
Siapa sangka, dari aktivitas sederhana itu justru Allah Swt menuntunku menemukan sesuatu yang jauh lebih bermakna yaitu Quran Journaling. Bagiku kegiatan Quran Journaling bukan lagi sekadar hobi, tapi sebuah perjalanan spiritual yang membuatku merasa lebih dekat dengan-Nya.
Apa Itu Quran Journaling?
Quran Journaling adalah metode mencatat, menuliskan refleksi, atau tadabbur ayat Al-Qur’an dalam bentuk jurnal. Bukan hanya menyalin ayat, tetapi juga mencoba memahami makna, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, lalu menuangkannya dalam tulisan, coretan, atau bahkan ilustrasi sederhana.
Bagi seorang ibu, Quran Journaling bisa menjadi:
- Ruang healing pribadi di sela aktivitas rumah tangga.
- Media belajar Islam yang menyenangkan dan penuh makna.
- Sarana ibadah karena setiap tulisan adalah bentuk perenungan atas firman Allah.
Berawal dari Membuat Jurnal yang Estetik
Perjalanan mengenal Quran Journaling dimulai dari hobi journaling yang serba estetik. Aku senang sekali menempel stiker Sanrio, menambahkan washi tape pastel, dan menulis dengan huruf-huruf cantik pada buku catatan harianku.
Setiap kali kubuka halaman jurnal itu, rasanya seperti menemukan ruang kecil yang bisa bikin hatiku lebih ringan dan semangat kembali. Tapi lama-kelamaan aku mulai merasa ada yang janggal. Jurnal itu memang enak dipandang, penuh warna, tapi entah kenapa hatiku tetap terasa kosong.
Aku butuh sesuatu yang lebih dari sekadar halaman cantik, aku butuh makna lebih. Kesadaran ini membuatku memulai mencari makna lebih dalam melakukan kegiatan journaling.
Menemukan Kegiatan Quran Journaling
Akhirnya aku menemukan konsep journaling yang bisa lebih bermakna jika aku lakukan setiap hari, yaitu Quran Journaling. Saat itu, aku menemukan banyak akun di Instagram yang membagikan refleksi ayat Al-Qur’an dalam bentuk tulisan sederhana.
Tidak ada dekorasi berlebihan, tapi setiap kata terasa menyentuh hati.
Aku mulai mempraktikan kegiatan ini dengan mengikuti panduan dari e-book. Lalu mempelajari bagaimana cara tadabbur ayat, menuliskan insight pribadi, lalu mengekspresikannya dengan tulisan atau gambar sederhana.
Awalnya terasa canggung, tapi perlahan aku menyadari bahwa Quran Journaling bagi seorang ibu sepertiku adalah cara indah untuk “curhat” pada Allah Swt.
Manfaat Quran Journaling untuk Ibu
Sejak rutin melakukan kegiatan Quran Journaling, aku merasakan banyak manfaat nyata, antara lain:
1. Menenangkan Pikiran
Setiap ibu pasti pernah merasa penat dengan cucian menumpuk, anak rewel, dan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Quran Journaling menjadi jeda untuk bernapas, menulis refleksi ayat yang menenangkan hati dan menjernihkan pikiran.
2. Membantu Tadabbur Ayat
Sering kali kita membaca Al-Qur’an hanya sekadar lewat, tapi ketika dituliskan maknanya terasa lebih dalam. Dengan Quran Journaling, aku berhenti sejenak untuk merenungi pesan Allah Swt dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
3. Membentuk Konsistensi Ibadah
Menulis satu ayat per hari ternyata cukup untuk menjaga rutinitas ibadah. Meski sederhana, tetapi konsistensi itu memberi dampak besar bagi hati.
4. Ruang Kreativitas yang Bernilai Ibadah
Sebagai ibu, kadang kita butuh ruang untuk mengekspresikan diri. Kegiatan ini menjadi wadah kreatif yang tidak hanya memuaskan sisi estetika, tapi juga bernilai ibadah.
Bergabung dengan Komunitas Quran Journaling
Lalu aku menemukan komunitas Sahal Quran Journaling di Instagram. Saat itu, mereka mengadakan 30 Days Quran Journaling Challenge dengan tema “Self Healing with Qur’an”. Awalnya aku sempat merenung, “bisa nggak ya aku konsisten menulis Journaling setiap hari?” Rasanya berat. Tapi ternyata, menuliskan satu ayat saja sudah jadi momen yang selalu kutunggu-tunggu.
Akhirnya aku menyadari kekuatan Quran Journaling bukan terletak pada estetiknya jurnal, tapi pada makna yang pelan-pelan menyusup ke hati. Yang lebih menyenangkan, aku juga membagikan hasil journaling itu di Threads. Respon yang datang cukup positif, membuatku semakin semangat untuk melanjutkan kegiatan ini.
Tips Memulai Quran Journaling untuk Ibu
Buat para ibu yang ingin mencoba, berikut tips sederhana agar rutinitas ini bisa dilakukan dengan konsisten:
1. Mulai dari Ayat Pendek
Tidak perlu terburu-buru menuliskan banyak ayat sekaligus. Cukup pilih satu ayat pendek yang menyentuh hati sesuai dengan kondisi saat ini.
2. Gunakan Jurnal Biasa
Tidak wajib membeli jurnal yang mahal atau cantik. Buku catatan polos pun bisa jadi teman terbaik untuk membuatnya.
3. Tulis Refleksi Singkat
Tidak harus menulis maknanya panjang lebar. Cukup jawab sederhana, seperti “apa pesan Allah Swt untukku melalui ayat ini hari ini?”
4. Tambahkan Visual Jika Mau
Boleh dihias dengan stiker, washi tape, atau doodle kecil. Namun, ingatlah bahwa makna ayat tetap menjadi fokus utama
5. Gabung Komunitas
Agar lebih semangat, coba ikuti komunitas Quran Journaling. Di sana, kita bisa belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan..
Quran Journaling Sebagai Ibadah Sehari-hari
Pada akhirnya, aku sadar kalau aktivitas ini bukan cuma sekadar hobi. Buatku, ini jadi cara sederhana untuk semakin dekat sama Al-Qur’an.
Rasanya indah sekali ketika di tengah rutinitas sebagai ibu, aku masih bisa punya ruang untuk tetap kreatif sekaligus menenangkan hati. Setiap kali menulis, aku merasa sedang berdoa. Setiap coretan kecil jadi semacam dzikir.
Dan setiap lembar jurnal yang terisi, jadi pengingat betapa aku ingin terus menjaga cinta ini pada Al-Qur’an.
Kesimpulan
Awalnya aku cuma iseng tempel stiker lucu di jurnal, tapi lama-lama aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu ketenangan lewat tadabbur ayat. Kegiatan ini untuk seorang ibu bukan sekedar mempercantik halaman, bagiku kegiatan ini adalah cara untuk merawat hati agar lebih dekat dengan Allah Swt di tengah menjalani rutinitas.
Kalau kamu seorang ibu yang sering merasa lelah atau penat, coba deh sempetin Quran Journaling. Nggak usah ribet, cukup pilih satu ayat setiap hari. Baca perlahan, tulis ulang, lalu resapi.
Percayalah, ayat itu akan jadi teman yang menenangkan, pengingat di kala sibuk, dan cahaya kecil yang menerangi langkahmu sehari-hari.
Kalau kamu suka baca tulisanku ini, yuk jelajahi artikelku yang lain! Siapa tahu ada cerita atau refleksi Qur’an yang juga menyentuh hatimu.

