Menjadi seorang penulis lepas selama tujuh tahun membuatku terbiasa menulis berbagai topik di media online. Kini ketertarikan pada literasi anak, membuatku mantap memutuskan untuk menjadi full time blogger.
Setelah menjadi seorang ibu dan berjibaku dengan keseharian mengurus anak, rasanya cukup kesulitan jika masih harus menulis beragam topik. Akhirnya aku memilih menulis di blog, ruang menulis dari hati tanpa dikejar target, revisi, hanya tempat bercerita dari sudut pandangku.
Di blog ini selain berbagi cerita tentang literasi anak, aku juga akan menulis tentang Quran Journaling sebagai salah satu cara melepas stres sekaligus ruang refleksi untuk ibu. Tak hanya itu, aku ingin berbagi pengalamanku di dunia menulis yang menjadi jalanku menambah penghasilan dari rumah.
Kenapa Memilih Literasi Anak?
Literasi anak selalu punya tempat istimewa di hidupku sebagai ibu. Aku percaya literasi bukan hanya soal membaca, tetapi tentang cara anak memahami dunia.
Aku memilih literasi anak sebagai salah satu fokus utama di blog ini karena pengalaman pribadi yang begitu membekas. Awalnya, aku hanya rutin membacakan buku sebelum tidur untuk anak (read aloud).
Ternyata kegiatan sederhana itu bukan hanya mempererat ikatan antara ibu dan anak, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkaya kosakata, dan melatih imajinasi anak. Pengalaman ini menyadarkanku bahwa literasi anak bukan sekadar tentang mengenalkan huruf atau mengajarkan membaca sejak dini.
Literasi adalah pondasi yang membentuk cara berpikir, mengasah kemampuan berkomunikasi, hingga melatih anak untuk lebih percaya diri dan kritis dalam menghadapi berbagai situasi. Karena itulah, aku ingin menjadikan literasi anak sebagai tema utama di blog ini.
Sebagai ruang berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi bagi para orang tua yang juga ingin menemani tumbuh kembang anaknya lewat literasi.
Contoh Kegiatan Literasi Anak di Rumah
Ada banyak cara sederhana untuk menanamkan literasi anak sejak dini. Misalnya membacakan buku bergambar bersama, mengenalkan huruf melalui permainan kreatif, atau mengajak anak menulis cerita pendek.
Selain itu, kegiatan membaca bersama bisa dikombinasikan dengan diskusi ringan. Misalnya bertanya “Apa yang kamu lihat di gambar ini?” atau “Bagaimana menurutmu tokoh itu menyelesaikan masalahnya?” Cara ini membuat anak lebih kritis sekaligus menikmati proses belajar.
Quran Journaling Sebagai Stress Realise Ibu
Selain literasi anak, aku juga menemukan ketenangan lewat Quran journaling. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus cara sederhana untuk menenangkan hati.
Menulis ayat, menandai kata yang menyentuh, lalu menuangkannya dalam catatan membuat pikiranku lebih jernih. Aku merasa lebih siap menjalani peran sehari-hari sebagai ibu.
Bagi sebagian orang, Quran journaling hanyalah catatan dengan hiasan. Bagiku, kegiatan ini adalah perjalanan spiritual yang menuntunku lebih dekat dengan Allah Swt.
Aku ingin berbagi pengalaman ini di blog, semoga bisa jadi inspirasi bagi ibu lain yang juga butuh ruang melepas penat. Dengan begitu, blog ini tak hanya soal literasi anak, tapi juga soal menemukan ketenangan diri.
Tips Sederhana Quran Journaling
Untuk memulai Quran journaling, tidak perlu peralatan mahal atau halaman penuh dekorasi. Cukup buku catatan dan pena atau digital note, tulis ayat yang menarik perhatian, lalu tulis refleksi singkat tentang maknanya.
Kamu bisa menambahkan warna atau highlight jika ingin, tapi yang terpenting adalah fokus pada makna dan perasaanmu saat membaca ayat. Aktivitas ini bisa dilakukan 10–15 menit setiap hari, cukup untuk memberi ketenangan di tengah rutinitas ibu.
Menulis Sebagai Side Hustle Ibu Rumah Tangga
Aku sudah menekuni dunia menulis lebih dari tujuh tahun sebagai content writer. Pengalaman itu membuatku mengerti bahwa menulis bisa jadi jalan untuk seorang tetap produktif dan berpenghasilan dari rumah.
Awalnya, menulis hanyalah pekerjaan sampingan yang kukerjakan di sela mengurus anak. Lama-lama, menulis menjadi ruang untuk menyalurkan ide sekaligus menambah penghasilan.
Sebagai ibu rumah tangga, kadang aku merasa kehilangan ruang untuk diri sendiri. Menulis membuatku merasa berdaya, ada kesempatan untuk berkembang tanpa meninggalkan peran utama sebagai ibu.
Itulah sebabnya aku ingin blog ini menjadi tempat berbagi perjalanan menulis. Aku ingin mengajak ibu lain melihat bahwa side hustle seperti menulis bisa dilakukan dengan fleksibel.
Tips Memulai Side Hustle Menulis dari Rumah
Mulailah dengan topik yang kamu kuasai dan sukai. Misalnya pengalaman parenting, literasi anak, atau hobi menulis kreatif.
Tetapkan waktu menulis secara rutin, walau hanya 30 menit per hari. Konsistensi lebih penting daripada durasi panjang sekaligus, apalagi bagi ibu yang punya banyak aktivitas.
Blog Ini Sebagai Ruang Berbagi
Blog ini akan berisi cerita seputar literasi anak, Quran journaling, dan pengalaman menulis. Semua aku rangkai dengan harapan bisa bermanfaat untuk para ibu yang membacanya.
Aku ingin blog ini menjadi pengingat bahwa seorang ibu tetap bisa berkarya. Meskipun sibuk, kita tetap bisa menemukan ruang untuk diri, anak, dan mimpi.
Kesimpulan
Menulis bagiku bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan pilihan hati. Literasi anak, Quran journaling, dan pengalaman menulis sebagai side hustle ibu rumah tangga telah membawaku menemukan kembali ruang untuk diri sendiri, berbagi, dan tumbuh.
Setiap tulisan di blog ini dibuat dengan niat berbagi pengalaman dan inspirasi. Semoga apa yang aku tulis bisa memberi manfaat bagi para ibu yang membaca, dan mengingatkan bahwa kita tetap bisa berkarya meski di rumah.

