Sudah puluhan tahun berlalu, tetapi cerita Ramadhan semasa kecil masih terekam jelas di ingatan. Momen itu membuatku merenung, ternyata sudah selama ini aku hidup dan berproses di dunia ini.
Rasanya baru kemarin aku menikmati Ramadhan bersama orang tua, padahal waktu berjalan begitu cepat tanpa permisi. Kini aku justru berdiri di posisi yang berbeda, menjadi orang tua yang ingin menciptakan kenangan Ramadhan masa kecil terbaik untuk anakku.
Ramadhan selalu menghadirkan rasa yang berbeda dibanding bulan lainnya. Suasananya hangat, ritmenya teratur, dan setiap harinya menyimpan cerita yang sederhana namun membekas.
Lewat tulisan ini, aku ingin mengabadikan cerita Ramadhan semasa kecil yang penuh makna. Aku menuliskannya bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi juga untuk mengingatkan diri bahwa momen kecil sering kali menjadi fondasi kebahagiaan yang besar.
Kuliah Shubuh yang Penuh Perjuangan
Aku masih ingat betul rasanya berjuang bangun sahur setiap dini hari. Kantuk terasa berat, tetapi aku tetap memaksa diri membuka mata demi ikut sahur bersama keluarga.
Setelah makan sahur, perjuangan ternyata belum selesai. Bukannya kembali tidur, aku justru harus bersiap mengikuti kuliah shubuh di masjid desa.
Aku tinggal di desa yang cukup jauh dari kota dan suasananya sangat sunyi saat malam tiba. Namun ketika Ramadhan datang, desa itu berubah menjadi lebih hidup dan terasa lebih hangat.
Menjelang Isya, anak-anak berbondong-bondong pergi ke masjid untuk tarawih dengan wajah penuh semangat. Begitu pula saat subuh, meski mata terasa berat, kami tetap melangkah menuju masjid demi mengikuti kuliah shubuh.
Mengisi Buku Catatan Kuliah Shubuh
Mengisi buku catatan kuliah shubuh menjadi cerita Ramadhan semasa kecil yang paling membekas dalam ingatanku. Di tengah rasa kantuk, aku harus fokus mendengarkan tausyiah ustaz sambil mencatat poin penting di buku khusus.
Tantangan terbesarnya bukan hanya mencatat, tetapi melakukannya selama 30 hari penuh tanpa bolong. Aku juga harus mendapatkan tanda tangan ustaz sebagai bukti kehadiran setiap harinya.
Kuliah shubuh biasanya selesai sekitar pukul enam pagi. Setelah itu aku langsung pulang, bersiap, lalu berangkat sekolah tanpa sempat tidur lagi.
Meski terasa melelahkan, cerita ramadhan ini melatih kedisiplinan sejak usia dini. Aku belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga melatih konsistensi.
Shalat Tarawih Bersama Keluarga
Jika kuingat kembali, momen buka puasa dan tarawih bersama keluarga selalu membuat hatiku terharu. Kini aku jarang merasakan buka bersama keluarga besar karena jarak dan kesibukan.
Dulu kami selalu pergi bersama ke masjid saat waktu Isya hampir tiba. Meski perut terasa begah setelah berbuka, aku tetap melangkah mengikuti orang tua, adik, dan kakak untuk shalat tarawih.
Kadang aku sempat tergoda untuk bolos karena rasa kenyang dan kantuk menyerang. Namun orang tuaku selalu mengajak dengan cara yang lembut, dan aku akhirnya ikut juga tanpa banyak protes.
Kini aku berusaha menciptakan suasana yang sama untuk anakku. Aku ingin ia merasakan hangatnya kebersamaan Ramadhan seperti yang pernah aku rasakan dahulu.
Sahur Bersama Keluarga
Bangun sahur selalu menjadi tantangan terberat bagiku saat kecil. Aku biasanya baru benar-benar bangun ketika orang tua atau kakakku membangunkan dengan suara yang cukup keras.
Aku memiliki tugas khusus saat sahur, yaitu mencuci piring dan menyiapkan peralatan makan. Setelah itu aku membantu menata piring, gelas, dan sendok di meja makan
Sementara kakakku membantu memasak bersama ummi di dapur. Kami bekerja sama tanpa banyak keluhan karena sudah memahami peran masing-masing.
Di sela-sela makan sahur, abiku sering bercerita tentang banyak hal dari buku yang ia baca atau pengalaman hidupnya. Cerita-cerita itu memperkaya pikiranku dan membuat suasana sahur terasa lebih hidup.
Baju Lebaran Buatan Ummi
Saat orang tua lain membeli baju lebaran di toko, ummiku justru menjahit sendiri baju untuk keenam anaknya. Ia membeli kain jauh-jauh hari lalu mulai mencicil jahitan sekitar H-7 sebelum lebaran.
Aku selalu menunggu proses itu dengan rasa penasaran. Setiap hari aku melihat perkembangan jahitan yang perlahan berubah menjadi pakaian utuh.
Karena baju itu buatan ummi sendiri, modelnya hampir tidak pernah sama dengan milik orang lain. Aku merasa bangga dan unik ketika memakainya saat hari raya.
Kini aku sadar, usaha ummi bukan hanya soal pakaian. Ia sedang menanamkan rasa cinta lewat setiap jahitan yang ia buat dengan penuh kesabaran.
Lebaran di Rumah Nenek Kakek
H-2 lebaran kami biasanya mudik ke rumah nenek dan kakek. Perjalanan sekitar tiga jam terasa menyenangkan karena kami penuh antusias menyambut hari raya.
Di rumah nenek, tujuh anak beserta pasangan dan cucu-cucunya berkumpul dalam satu atap. Suasana ramai dan penuh tawa membuat rumah itu terasa sangat hidup.
Untungnya rumah nenek cukup luas sehingga mampu menampung kami semua. Saat malam takbiran, aku mendapat tugas membuat ketupat bersama sepupu-sepupu yang seusia.
Kini aku jarang merasakan lebaran di rumah nenek karena lebih sering berlebaran di rumah mertua. Ketika sesekali kembali ke sana, suasananya terasa berbeda karena kakek telah tiada dan kami semua sudah dewasa.
Penutup
Meski waktu mengubah banyak hal, kenangan Ramadhan semasa kecil tetap tinggal di hati. Aku bersyukur pernah dikelilingi keluarga yang menghadirkan kebersamaan sederhana namun penuh makna
Sekarang aku menjalani Ramadhan bersama keluarga kecilku. Aku menerima fase ini dengan lapang karena setiap orang memang memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan melanjutkan cerita.
Kalau kamu punya kenangan Ramadhan masa kecil yang paling membekas, yuk ceritakan juga di kolom komentar. Aku ingin membaca cerita versimu dan mungkin kita bisa saling menguatkan lewat kenangan yang sederhana namun penuh arti.
